Senin, 22 Oktober 2012

Peta Konsep


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa agar mampu mengembangkan potensinya secara maksimal. Untuk memperoleh hasil maksimal pada pembelajaran IPS salah satu faktor penentunya adalah hasil belajar IPS siswa yang baik. Oleh karena itu, guru harus menyadari betapa pentingnya meningkatkan hasil belajar IPS pada setiap siswanya. Sesuai dengan pendapat Dalyono (2005: 57) bahwa hasil belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya hasil belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah.
Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel (dalam Trianto, 2007 : 94) adalah bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa.
Pemetaan konsep menurut Martin (1994) (dalam Trianto, 2007: 157), merupakan inovasi baru yang penting untuk membantu anak menghasilkan pembelajaran bermakna dalam kelas. Peta konsep menyediakan bantuan visual konkret untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi tersebut dipelajari. Para guru yang telah menggunakan peta konsep menemukan bahwa peta konsep memberi mereka basis logis untuk memutuskan ide utama apa yang akan dimasukkan atau dihapus dan rencana-rencana dan pengajaran sains mereka. Peta konsep membantu guru memahami macam-macam konsep yang ditanamkan di topik lebih besar yang diajarkan. Pemahaman ini akan memperbaiki perencanaan dan instruksi guru. Pemetaan yang jelas dapat membantu menghindari miskonsepsi yang didesain siswa. Tanpa peta konsep guru memilih untuk mengajar apa yang diingat atau disukai. Topik-topik yang dipilih guru dengan cara ini mungkin tepat, khususnya bagi para guru yang telah memiliki pengalaman sukses sebelum ini dengan materi tersebut.
Berdasarkan pengamatan awal penulis di Kelas IV SD Negeri 001 Minas, terdapat gejala-gejala, seperti: 1) hasil siswa dalam belajar kurang, 2) siswa suka keluar masuk kelas selama proses belajar belajar mengajar, 3) interaksi antar siswa kurang, dan apa yang disajikan guru sulit untuk dimengerti atau dipahami, dan 4) hasil belajar cenderung rendah, siswa yang tidak mencapai ketuntasan KKM 65 sebanyak 12 siswa (46,15%), dan siswa yang tuntas pada pembelajaran IPS sebanyak 14 siswa (53,85%), seperti pada tabel berikut:
Tabel 1.1
Ketuntasan KKM Pelajaran IPS Kelas IV SDN 001 Minas Barat
Semester I Tahun Pelajaran 2010/2011
No.
Jumlah Siswa
%
Kriteria
1
2
14
12
53,85
46,15
Tuntas
Tidak Tuntas

26
100
-


Dari gejala di atas dapat dilihat yang menjadi akar permasalahan adalah siswa kurang berhasil mengikuti kegiatan pembelajaran dan masih menggunakan cara hapalan dalam belajar.
Sehubungan dengan hal di atas, maka penulis mengangkatnya menjadi penelitian dengan judul: Penerapan Strategi Peta Konsep untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas IV SD Negeri 001 Minas Barat Kabupaten Siak.

B.       Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah: Apakah dengan penggunaan strategi belajar peta konsep dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS di Kelas IV SD Negeri 001 Minas Kabupaten Siak?

C.      Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV dengan menggunakan strategi belajar peta konsep di Kelas IV SD Negeri 001 Minas Kabupaten Siak.

D.      Manfaat Penelitian

Hasil  penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :
1.       Bagi siswa, hasil penelitian ini merupakan kontribusi positif bagi siswa sebagai suatu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar,  terutama dalam strategi peta konsep pada pembelajaran IPS.
2.       Bagi guru, untuk meningkatkan interaksi belajar dengan mencari alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran IPS.
3.       Bagi sekolah, temuan penelitian ini dapat dijadikan pencerahan kegiatan pembelajaran dan meningkatkan kualitas hasil pembelajaran IPS di SD Negeri 001 Minas.
4.       Bagi peneliti, untuk mempertajam wawasan peneliti tentang pembelajaran IPS dengan menggunakan strategi pembelajaran peta konsep secara lebih variatif.

E.       Defenisi Operasional

Defenisi operasional dalam penelitian ini, yaitu:
1.        Peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang menggambarkan sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep lain pada kategori yang sama, dengan langkah-langkah berikut: (1) mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep, (2) mengidentifikasi ide atau konsep sekunder yang menunjang ide utama, (3) menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut, (4) mengelompokkan ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan hubungan ide tersebut dengan ide utama.
2.        Hasil penerapan belajar adalah nilai yang diperoleh siswa setelah mengikuti pembelajaran metode kerja kelompok pada materi perkembangan teknologi.






BAB II
KAJIAN TEORETIS

A.     Pengertian Strategi Peta Konsep
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan (Trianto, 2007: 85).
Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berpikir yang diterapkan oleh siswa dalam mempengaruhi hal yang dipelajari, termasuk proses memori dan metakognitif. Pressley dalam Trianto (2007: 85) mengatakan bahwa strategi belajar adalah operator kognitif terdiri atas proses yang secara langsung terlibat dalam menyelesaikan suatu tugas (belajar). Strategi tersebut merupakan strategi yang diterapkan siswa untuk memecahkan masalah belajar tertentu.
Untuk menyelesaikan tugas belajar siswa memerlukan keterlibatan dalam proses berpikir dan perilaku, menskim atau membaca sepintas lalu judul utama, meringkas, dan membuat catatan, di samping itu juga memonitor jalan berpikir diri sendiri.
Sedangkan, Sulityono dalam Trianto (2007: 86) mendefinisikan strategi belajar sebagai tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah, mempercepat, lebih menikmati, lebih mudah memahami secara langsung, lebih efektif dan lebih mudah ditransfer ke dalam situasi yang baru.
Dengan kata lain, strategi belajar adalah suatu strategi belajar yang mengacu pada perilaku dan proses berpikir siswa yang diterapkan pada saat menyelesaikan tugas belajar.
Ada beberapa pengertian tentang konsep menurut para ahli, diantaranya adalah menurut Soejadi (dalam Basuki 2000) yang mendefinisikan konsep adalah ide abstrak yang dapat diterapkan untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan yang pada umumnya dinyatakan dengan suatu istilah atau rangkaian kata. Sedangkan menurut Gagne (dalam Ruseffendi, 1988) pengertian konsep dalam matematika sebagai ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan obyek-obyek kedalam contoh dan bukan contoh. Sementara itu Hudojo, et al (1988) menyatakan bahwa konsep sebagai suatu ide/gagasan yang didesain dengan memandang sifat-sifat yang sama dari sekumpulan eksemplar yang cocok.
Dari pengertian konsep yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak untuk mengklasifikasikan obyek-obyek yang biasanya dinyatakan dengan dalam istilah kemudian dituangkan ke dalam contoh dan bukan contoh.
Dengan penguasaan konsep yang baik, maka manusia bisa memperoleh ilmu pengetahuan yang tidak terbatas. Oleh karena itu konsep sangatlah penting bagi manusia karena selain sebagai alat untuk berkomunikasi dengan sesamanya juga merupakan alat dalam belajar untuk penguasaan materi. Dengan pembuatan peta konsep ini diharapkan para siswa bisa memiliki konsep-konsep pengetahuan sehingga siswa bisa lebih mudah dalam belajarnya.
Menurut Hudojo, et al. (2002:24) peta konsep adalah saling keterkaitan antara konsep dan prinsip yang direpresentasikan bagai jaringan konsep yang perlu dikonstruk dan jaringan konsep hasil konstruksi inilah yang disebut peta konsep. Sedangkan menurut Suparno (dalam Basuki, 2000: 9) peta konsep merupakan suatu bagan skematik untuk menggambarkan suatu pengertian konseptual seseorang dalam suatu rangkaian pernyataan. Peta konsep bukan hanya menggambarkan konsep-konsep yang penting, melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dapat diterapkan dua prinsip yaitu prinsip diferensial progresif dan prinsip penyesuaian integratif.
 Menurut Djamarah dalam Trianto (2007: 158) bahwa konsep atau pengertian merupakan kondisi utama yang diperlukan untuk menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri dan sekumpulan stimulus dan objek­objeknya.
Carrol dalam Trianto (2007: 158) mendefinisikan:
“Konsep sebagai suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok objek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Contoh, bila sesorang ingin membuat gambaran daun, ia memusatkan pada warna daun dan mengabaikan bahwa daun sebagai habitat ulat daun”.

Berdasarkan uraian di atas, kiranya dapat diperoleh gambar­an yang jelas tentang kedudukan konsep dalam struktur ilmu pengetahuan khususnya dalam setiap disiplin ilmu sosial sebagai sumber utama Ilmu Pengetahuan Sosial, sebab seperti dikemukakan oleh Smith dan Ennis  dalam Wahab (2007: 127), mengatakan bahwa adapun yang dimaksud dengan konsep, ialah kumpulan pengertian abstrak yang berkaitan dengan simbol untuk kelas dan suatu benda, kejadian atau gagasan. Konsep bersifat abstrak berisi pengertian yang tidak berhubungan dengan suatu contoh khusus daripada kelas tetapi dengan semua kelas yang mungkin. Di samping itu konsep itu ber­sifat subyektif dan diinternalisasi. Dengan demikian, maka tiap orang memdesain konsep sendiri, melalui pengalaman, misalnya meng­amati contoh, mendengar diskusi tentang arti atau atribut. Oleh sebab itu maka konsep bukan suatu verbalisasi tetapi lebih bersifat pemahaman abstrak tentang atribut umum suatu kelas.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk dapat menguasai konsep seseorang harus mampu membedakan antara benda yang satu dengan benda yang lain, peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Dengan menguasai konsep siswa akan dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu, misalnya menurut warna, desain, besar, jumlah, dan sebagainya. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi siswa dalam berpikir, dan dalam belajar. Dengan menguasai konsep, dimungkinkan untuk memperoleh pengetahuan yang tidak terbatas.
Adapun yang dimaksud peta konsep adalah ilustrasi grafis konkret yang mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep lain pada kategori yang sama (Martin dalam Trianto, 2007: 159). Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar  dalam Trianto (2007: 159), mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
1.      Peta konsep atau pemetaan konsep adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi Fisika, Kimia, Biologi, Matematika. Dengan menggunakan peta konsep, siswa dapat melihat bidang studi itu lebih jelas dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
2.      Suatu peta konsep merupakan gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan- proporsional antara konsep.
3.                  Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama. Ini berarti ada konsep yang lebih inklusif dari pada konsep yang lain.
4.      Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif terdesainlah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Berdasarkan ciri tersebut di atas, maka sebaiknya peta konsep disusun secara hirarki, artinya konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif. Dalam Pendidikan IPS peta konsep membuat informasi abstrak menjadi konkret dan sangat bermanfaat meningkatkan ingatan suatu konsep pembelajaran, dan menunjukkan pada siswa bahwa pemikiran itu mempunyai desain.

B.      Langkah-Langkah Strategi Pembelajaran Peta Konsep
Pembuatan peta konsep dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau suatu diagram tentang bagaimana ide penting atau suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain. Posner dan Rudnitsky dalam Trianto (2007:160) menulis, bahwa “peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide, bukan hubungan antar tempat”. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang-kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab-akibat.
Arends dalam Trianto (2007:160), memberikan langkah-langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut:
Langkah 1    Mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep. Contoh ekosistem.
Langkah 2    Mengidentifikasi ide atau konsep sekunder yang menunjang ide utama. Contoh individu, populasi, dan komunitas.
Langkah 3    Tempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut.
Langkah 4    Kelompokkan ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukkan hubungan ide tersebut dengan ide utama.
Berdasarkan pendapat di atas, dapatlah dikemukakan langkah-langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut: (1) memilih suatu bahan bacaan, (2) menentukan konsep yang relevan, (3) mengurutkan konsep dan yang inklusif ke yang kurang inklusif, (4) menyusun konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif diletakkan di bagian atas atau puncak peta lalu dihubungkan dengan kata penghubung misalnya “terdiri atas”, “menggunakan” dan lain-lain.
Langkah-langkah berikut dapat dilakukan guru dan siswa dalam menggunakan pembelajaran konsep (Gimin, dkk., 2008:28):
1)      Memilih dan mengindentifikasi satu konsep  yang akan diajarkan
2)      Memilih ciri-ciri dan contoh-contoh dari konsep itu
3)      Menentukan contoh-contoh yang berhubungan dan yang tidak berhubungan
4)      Memperkenalkan semua proses tersebut kepada siswa
5)      Memaparkan contoh-contoh dan daftar ciri-cirinya
6)      Menentukan definisi konsep
7)      Memberikan contoh-contoh lain
8)      Mendiskusikan proses tersebut dengan siswa
9)      Memberikan evaluasi
Model peta konsep yang diterapkan dalam penelitian ini adalah peta konsep laba-laba.

C.     Macam-Macam Peta Konsep Laba-Laba
Nur dalam Trianto (2007:161) mengatakan bahwa peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaringan, rantai kejadian, peta  konsep siklus, dan peta konsep laba-laba.
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Melaukan curah pendapat ide-ide berangkat dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide dan ini berkaitan dengan ide sentral itu, namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk  memvisualisasikan hasl-hal berikut: (a) tidak menurut hirarki, (b) kategori yang tidak paralel, (c) hasil curah pendapat oleh Trianto (2007:164). Contoh peta konsep laba-laba dapat dilihat pada gambar berikut:
D.     Pengertian Hasil Belajar
Djamarah (2002: 13) mengatakan belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hail dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor.  Cronbach dalam Ahmadi dkk., (2004: 127), mengemukakan bahwa: “Belajar yang efektif adalah melalui pengalaman. Dalam proses belajar, seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat indranya.”
Sementara itu, Howard L. Kingskey dalam Ahmadi dkk., (2004: 127) menyatakan bahwa: “Belajar adalah proses di mana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.” Pengertian hasil belajar dapat dianalogkan dengan wujud ideal dan tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan, dan ditandai dengan belajar tuntas.
Gordon (dalam E. Mulyasa, 2004:38-39) menjelaskan alasan beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi sebagai berikut.
1.         Pengetahuan (knowledge)
2.         Pemahaman (understanding)
3.         Kemampuan (skill)
4.         Nilai (value)
5.         Sikap (attitude)
6.         Hasil (interest)

Berdasarkan uraian tersebut dalam disimpulkan bahwa hasil belajar adalah seperangkat soal yang berhasil dijawab peserta didik. Perangkat soal itu sendiri mencakup ranah : (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) kemampuan, (4) nilai, (5) sikap, dan (6) hasil. Muhibbin Syah (1995:150) mengatakan hasil belajar pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar mengajar siswa.”
Kesimpulannya, hasil belajar berdasarkan pandangan tersebut merupakan kristalisasi dan penguasaan soal dan segenap ranah kompetensi peserta didik. Artinya, penguasaan soal mi diasumsikan sebagai pengungkapan hasil belajar ideal yang dicapai dalam rentang waktu tertentu. Dikatakan dalam rentang waktu tertentu karena hasil belajar dilakukan melalui penilaian kelas. Sedangkan penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum, dan ujian akhir. Mulyasa (2004: 104) mengatakan penilaian kelas dilakukan oleh guru, “untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan batik untuk perbaikan proses pembelajaran dan penentuan kenaikan kelas.”
Kesimpulannya, hasil belajar dapat diukur sebagai perwujudan kemajuan belajar yang dilakukan melalui ulangan harian, ulangan umum, dan ulangan akhir.

E.      Hubungan Pembelajaran Peta Konsep dengan Hasil belajar IPS
Hubungan antara Pembelajaran Peta Konsep dengan pembelajaran IPS adalah saling keterkaitan karena Peta Konsep adalah merupakan suatu alat atau cara yang digunakan untuk mentransper pembelajaran IPS agar dapat dengan mudah diterima oleh siswa, sehingga apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran IPS dapat dimiliki dan dipahami oleh siswa. Dalam kata lain IPS adalah sebagai inputnya pembelajaran Peta Konsep sebagai prosesnya dan perilaku siswa sebagai output.

F.      Hipotesis
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu: “Jika diterapkan strategi pembelajaran peta konsep maka dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa Kelas IV SD Negeri 001 Minas Barat Kabupaten Siak Tahun Pelajaran 2010/2011.”












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar