Senin, 22 Oktober 2012

Media Pembelajaran


BAB I

PENDAHULUAN



Bab ini berisi bahasan tentang: (1) konsep tentang media infocus dengan OHP (Over Head Projector), (2) permasalahan, (3) pembatasan masalah, (4) tujuan penelitian, (5) manfaat penelitian, dan (6) definisi operasional.

1.1         Latar Belakang
Semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi membawa implikasi meluasnya cakrawala manusia dalam berbagai bidang pengetahuan, sehingga setiap generasi penerus harus belajar lebih banyak untuk menjadi manusia terdidik sesuai dengan per­kembangan zaman. Hal ini membawa implikasi pada lapangan pendidikan yang menuntut sistem pen­didikan dan latihan yang dapat dilaksanakan lebih efisien dan efektif. Untuk itu, perlu ada media dalam mengkomunikasikan segala macam pengetahuan dan pesan, baik secara verbal maupun non-verbal.
Media pengajaran di dalam proses belajar mengajar sangat besar manfaatnya. Beberapa manfaat media pengajaran dalam proses belajar mengajar adalah meletakkan dasar-dasar yang kongkrit untuk berpikir dan mengurangi verbalisme. Pengajaran hanya penuturan kata-kata dari guru maka ia bersifat verbalisme. Hal ini akan teratasi dengan media. (2) Memperbesar perhatian siswa terhadap bahan pengajaran yang diajarkan. (3) Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar dan membuat pelajaran lebih mantap. (4) Memberikan pengalaman nyata kepada siswa dan menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa. (5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontiniu. (6) Membantu tumbuhnya pengertian dan perkembangan bahasa. (7) Memberikan pengalaman yang tidak mudah dengan cara lain.
Menurut Sudjana dan Rivai, (1991: 2), manfaat media pengajaran adalah : (1) Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar. (2) Bahan pengajaran lebih jelas maksudnya, sehingga lebih mudah dipahami siswa. (3) Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata guru. (4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, mencoba, mendemonstrasikan dan lain-lain.
Menurut Fathurrahman, dkk. dalam Sutikno (2007: 173), menyebutkan bahwa dalam aktivitas pem­belajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.
Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang konkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitas. Karena itu, media memiliki andil untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan menunjukkan hal-hal yang tersembunyi. Ketidakjelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran.
Cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal dewasa ini, dan yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dan yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru.
Peranan guru dalam pemanfaatan media dan teknologi secara kreatif  adalah menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif bagi timbulnya motivasi anak dalam kegiatan pembelajaran pada kelas melalui media infocus dengan OHP (Over Head Projector). Penggunaan media atau alat-alat modern di dalam pembelajaran bukan berarti menganti cara mengajar yang baik, melainkan untuk melengkapi dan membantu para guru dalam menyampaikan materi atau informasi kepada siswa. Dengan menggunakan media diharapkan terjadinya komunikasi yang komunikatif, siswa mudah memahami maksud dan materi yang disampaikan guru di depan kelas, kemudian juga sebaliknya guru mudah mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa, melalui media guru dapat membuat contoh-­contoh, interpretasi-interpretasi sehingga siswa mendapat kesamaan arti sesama mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif dan mudah bila dibantu dengan sarana visual, di mana 11% dari yang dipelajari terjadi lewat indera pendengaran, sedangkan 83% lewat indera penglihatan. Di samping itu, dikemukakan bahwa kemampuan mengingat 20% dari apa yang didengar, namun dapat mengingat 50% dari apa yang dilihat dan didengar (http://www.google.com, 2007).
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas XI.1 dan XI. 2 SMA Negeri 3 Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru, alasan penulis melakukan penelitian hanya pada dua kelas saja, karena selain masih rendahnya aktivitas belajar siswa pada kelas ini, juga untuk melihat perbandingan kemampuan menulis karangan narasi antara kelas XI.1 yang diberikan media infocus dengan OHP (Over Head Projector) dengan kelas XI.2 yang tidak mendapat media infocus dengan OHP (Over Head Projector).
Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan berdampak merugikan siswa dan suasana pembelajaran. Sehubungan dengan hal di atas, maka penulis mengangkatnya menjadi penelitian dengan judul: Perbedaan Antara Penggunaan Media Infocus dan Media OHP (Over Head Projector) Kelas XI SMA Negeri 3 Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru.
Pentingnya kemampuan yang tinggi dalam menulis karangan narasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia, sangat membantu siswa dalam menceritakan atau memaparkan tentang peristiwa yang pernah dilihat atau dialaminya. Tuntutan terhadap siswa untuk memiliki kemampuan menulis karangan narasi, harus diupayakan secara maksimal melalui pembelajaran, di antaranya yaitu menggunakan media infocus dengan OHP (Over Head Projector). Keunggulan penggunaan media infocus dengan OHP (Over Head Projector) yaitu memperjelas, memudahkan dan memperindah kurikulum yang akan disampaikan oleh guru kepada peserta didik, terutama kepada siswa yang memiliki kemampuan masih rendah untuk menulis karangan narasi, sehingga dengan adanya media infocus dengan OHP (Over Head Projector) diharapkan dapat mengefektifkan penyampaian materi pembelajaran tentang karangan narasi.



1.2         Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat disusun suatu permasalahan dalam penelitian ini, yakni: adakah perbedaan yang signifikan antara penggunaan media infocus dan OHP (Over Head Projector) siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 3 Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru?


1.3         Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas, penulis melakukan pemabatsan masalah dalam penelitian ini. Pembatasan masalah dimaksud agar hasil penelitian menjadi lebih terarah, hasil yang diperoleh lebih akurat. Di samping itu, pembatasan ini dilakukan karena keterbatasan yang penulis miliki, baik dari segi waktu, tenaga dan kemampuan.
Demikian banyaknya cakupan materi yang berhubungan dengan menulis, maka penulis hanya mengkaji karangan narasi dan media pembelajaran yang digunakan, yaitu media Infocus dan media OHP (Over Head Projector). Media Infocus dan OHP (Over Head Projector) yang digunakan berisi berbagai peristiwa, dan aktifitas masyarakat sehari-hari
1.4         Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perbedaan antara penggunaan media infocus dan OHP (Over Head Projector) siswa kelas XI Bahasa pada SMA Negeri 3 Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru.
1.5         Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Bagi peneliti, untuk mempertajam wawasan peneliti tentang perbedaan penggunaan media infocus dengan OHP (Over Head Projector) terhadap kemampuan menulis karangan narasi siswa.
2.  Bagi siswa, untuk memberikan umpan balik agar mengetahui kelebihan dan kelemahannya dalam pembelajaran menulis karangan narasi.
3.   Bagi guru, untuk meningkatkan interaksi belajar dengan mencari alternatif pemecahan masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
4.   Bagi sekolah, temuan penelitian ini dapat dijadikan tolok ukur untuk mencerahkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan hasil belajar siswa di SMA Negeri 3 Kecamatan Rumbai Pekanbaru.

1.6         Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap istilah yang terdapat dalam penelitian ini, maka perlu dijelaskan sebagai berikut:
1.   Media pembelajaran adalah suatu alat yang digunakan untuk memaksimalkan kegiatan pembelajaran terhadap siswa, yaitu melalui media infocus dengan OHP (Over Head Projector) tipe visual.
2.  Kemampuan menulis karangan narasi adalah potensi yang dimiliki siswa untuk memahami dan menyampaikan kisah atau kejadian nyata tentang seluruh aktivitas kehidupan melalui pemikiran kreatif tentang ide, pendapat, gagasan, dan kreasi yang memiliki makna penting untuk dicermati.

Kecerdasan Emosional


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah

Pendapat lama menunjukkan bahwa kualitas inteligensi, kecerdasan dalam ukuran intelektual atau tataran kognitif yang tinggi dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar atau meraih kesuksesan dalam hidupnya. Namun, baru-baru ini telah berkembang pandangan lain yang mengatakan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi keberhasilan (kesuksesan) hidup seseorang, bukang semata-mata ditentukan oleh tingginya kecerdasan intelektual, tetapi faktor kemantapan emosional (Daniel Goleman, dalam Syamsu Yusuf, dkk., 2006: 239).
Menurut Daniel (Syamsu Yusuf, dkk, 2006: 239) bahwa banyak orang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya rendah, namun karena mereka kurang memiliki kecerdasan emosional. Tidak sedikit orang yang sukses dalam hidupnya karena mereka memiliki kecerdasan emosional, meskipun inteligensi intelektualnya (IQ) hanya pada tingkat rata-rata.
Kecerdasan emosional ini semakin perlu dipahami, dimiliki dan diperhatikandalam pengembangannya, mengingat kondisi kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan yang semakin kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap kehidupan emosional seseorang.
Dalam hal ini, Daniel Goleman (Syamsu Yusuf, dkk., 2006: 240) mengemukakan bahwa hasil surveinya terhadap para orang tua dan guru, yang hasilnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan yang sama di seluruh dunia, yaitu generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka menampilkan sifat-sifat: 1) Lebih kesepian dan pemurung, 2) Lebih beringasan dan kurang menghargai sopan santun, 3) Lebih gugup dan mudah cemas, dan 4) Lebih impulsif (mengikuti kemauan naluriah/ instinktif tanpa pertimbangan akal sehat) dan agresif.
Berdasarkan pengamatan penulis di lapangan terlihat gejala-gejala, seperti:
1.        Sebagian siswa menampilkan emosional yang kurang stabil, seperti mudah menangis atau menjerit jika marah.
2.        Rasa tanggung jawab yang kurang baik, seperti lalai mengerjakan tugas sekolah, lupa kalau sedang tugas piket.
3.        Penyesuaian sosial yang sulit, seperti merasa canggung dalam kelompok, kesulitan dalam memilih kawab akrab.
4.        Sebagian siswa memiliki kemampuan komunikasi yang kurang menunjang, seperti mudah gugup menyampaikan pertanyaan atau pendapat di kelas.
Keadaan ini memberikan indikasi adanya kencenderungan siswa  mengalami kesulitan dalam mengendalikan kecerdasan emosionalnya. Untuk membantu para siswa mengembangkan kecerdasan emosional untuk peningkatan prestasi belajar di sekolah, maka pemberian layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting.
Untuk menelaah lebih mendalam tentang kaitan kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan di Kecamatan Kampar Kiri, penulis tertarik melakukan penelitian.

B.      Rumusan Masalah
Permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.       Bagaimanakah gambaran kecerdasan emosional siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan?
2.       Bagaimanakah gambaran prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri.
3.       Apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri?

C.     Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk:
1.       Mengetahui gambaran kecerdasan emosional siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri.
2.       Mengetahui gambaran prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri.
3.       Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa kelas V Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri.
D.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan akan bermanfaat sebagai:
1.       Untuk mengumpulkan data secara ilmiah dimana hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar pembuatan keputusan atau kebijakan oleh kepala sekolah atau pejabat yang berwenang dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah dasar.
2.       Kontribusi data bagi guru Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri, dalam memahamai kaitan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar siswa di sekolah dasar.
3.       Informasi tambahan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian dalam materi yang sama.

E.      Keterkaitan Variabel Penelitian
Yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah: Kecerdasan emosional siswa kelas V (Variabel X) dan prestasi belajar siswa kelas V (Variabel Y) Sekolah Dasar Gugus Tunas Baru Penghidupan Kecamatan Kampar Kiri. Untuk lebih jelasnya tentang keterkaitan variabel penelitian ini dapat dilihat skema berikut:






 







F.      Definisi Operasional

Kecerdasan emosional dalam penelitian ini merujuk pada aspek-aspek kecerdasan emosional menurut Syamsu Yusuf LN., dkk. (2006: 240-241), adalah sebagai berikut :
1.      Kesadaran diri
2.      Mengelola emosi
3.      Memanfaatkan emosi secara produktif
4.      Empati
5.      Membina hubungan
Belajar adalah perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan  kecakapan (Witherington (1952) dalam Nana  Syaodih Sukmadinata (2005: 155).
Prestasi belajar adalah segenap potensi yang mampu diraih siswa dalam aktivitas belajar mengajar di sekolah, yang tertuang dalam nilai raport Semester I Tahun Pelajaran 2006/2007.

Strategi Mengelola Konflik


BAB I
PENDAHULUAN

 A.     Latar Belakang Masalah
Konflik selalu diasosiasikan dengan keadaan emosional yang tidak menyenangkan, seperti halnya dengan kecemasan atau marah, bila seseorang melakukan penanggulangan, ia membuat respon sedemikian rupa sehingga ia dapat menghindarkan diri, lari atau merasa tidak enak atau menangani masalah khusus tersebut.
Konflik timbul dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor-faktor penyebab konflik antara lain: Persaingan terhadap sumber-sumber, ketergantungan tugas, kekaburan batas-batas bidang tugas, masalah stasus, dan rintangan dalam komukasi individu atau kelompok. Individu yang sedang berkonflik dapat dilihat dari gejala-gejala yang ditunjukkannya. Gejala-gejala konflik menurut Kusnadi dan Wahyudi (2003 36-38) adalah: 1) Adanya komunikasi yang lemah, 2) Adanya permusuhan atau iri hati antar kelompok, 3) Adanya friksi antara pribadi. 4) Eskalasi arbitrasi, dan 5) Adanya moral yang rendah.
Jhonson (1981) dalam Supratiknya (2005:94) mengatakan bahwa rusaknya suatu hubungan disebabkan oleh kegagalan memecahkan konflik secara konstruktif, adil dan memuaskan kedua belah pihak, bukan oleh munculnya konflik itu sendiri. Studi ini akan menfokuskan pada strategi pengelolaan konflik siswa yang tinjau dari latar belakang ibu yang bekerja dengan yang tidak bekerja.
Yang dimaksud dengan strategi mengelola konflik yaitu suatu siasat atau cara-cara untuk menyelesaikan suatu proses penggalan pencapaian tujuan oleh pihak lain, karena adanya berbagai perbedaan, seperti perbedaan pendapat, nilai- nilai, atau tuntutan masing-masing siswa tersebut. Teori strategi mengelola konflik menurut Supratiknya (2003: 99-100), pada umumnya dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu strategi mengelola konflik antar pribadi dan studi mengelola konflik antar kelompok. Lebih lanjut, studi akan menfokuskan pada strategi mengelola konifik antar pribadi, yaitu terdiri atas lima indikator: Menarik diri, Memaksa, Mendamaikan, Kompromi, dan Konfrontasi.
Gejala-gejala yang ditemukan di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh antara lain:
1.         Adanya sebagian siswa yang kurang dapat menghindar atas suatu pertentangan nilai-nilai atau perbedaaan pendapat dalam mencapai tujuan.
2.         Adanya sebagian siswa yang kurang mampu untuk mengadakan suatu proses kompromi dalam menyelesaikan suatu perbedaan pandangan, nilai-nilai dan lainnya dalam mencapai tujuan.
3.         Adanya sebagian siswa yang melakukan pemaksaan kehendak kepada orang lain dalam mencapai tujuannya.
4.         Adanya sebagian siswa kurang mampu dalam menjalin kerjasama dengan orang lain dalam menghindari berbagai pertentangan dalam mencapai tujuannya.
Berdasarkan gejala-gejala tersebut di atas, maka penulis mengajukan judul: Perbedaan Strategi Mengelola Konflik Siswa Kelas VI yang Ibunya bekerja dan yang Tidak Bekerja di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh Tahun Pelajaran 2009/2010.

B.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan gejala masalah maka  permasalahan penelitian ini adalah:
1)      Bagaimana gambaran strategi mengelola konflik siswa yang ibunya bekerja di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh?
2)      Bagaimana gambaran strategi mengelola konflik siswa yang ibunya tidak bekerja di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh?
3)      Apakah terdapat perbedaan strategi mengelola konflik siswa yang ibunya bekerja dengan yang tidak bekerja di kelas VI SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh?


C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.  Tujuan Penelitian
a.       Untuk mengetahui gambaran strategi mengelola konflik siswa yang ibunya bekerja di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh.
b.      Untuk mengetahui gambaran strategi mengelola konflik siswa yang ibunya tidak bekerja di SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh.
c.       Untuk mengetahui perbedaan strategi mengelola konflik siswa yang ibunya bekerja dengan yang tidak bekerja di kelas VI SD Negeri 008 Kecamatan Limapuluh.

2.  Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
1.       Sebagai bahan infomasi bagi pihak sekolah, pihak yang terkait tentang strategi mengelola konflik siswa yang ibunya bekerja dan tidak bekerja.
2.       Sebagai bahan pertimabangan pihak sekolah yang terkait dalam mengambil keputusan tentang proses belajar siswa khususnya strategi dalam menyelesaikan suatu konflik.
3.       Sebagai sarana latiahan bagi penulis untuk melakukan penelitian ilmiah.

D.     Keterkaitan Variabel Penelitian
Penelitian terdiri atas lima indikator yakni strategi mengelola konflik aspek menarik diri, memaksa, mendamaikan, kompromi, dan konfrontasi dengan dua variabel yakni ibu yang bekerja dan tidak bekerja.

Strategi Mengelola Konflik Siswa Ibu Tidak Bekerja
X2
 
Strategi Mengelola Konflik Siswa Ibu Bekerja
X1
 





Dibedakan
 


E.      Definisi Operasional

Definisi operasional pada penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Strategi mengelola konflik adalah suatu siasat atau cara-cara untuk menyelesaikan suatu proses penggalan pencapaian tujuan oleh pihak lain, karena adanya berbagai perbedaan, seperti perbedaan pendapat, nilai- nilai, atau tuntutan masing-masing siswa tersebut. Teori strategi mengelola konflik menurut A. Supratiknya (2003: 99-100), pada umumnya dapat dibedakan atas dua kelompok, yaitu strategi mengelola konflik antar pribadi dan studi mengelola konflik antar kelompok. Lebih lanjut, studi akan menfokuskan pada strategi mengelola konifik antar pribadi, yaitu terdiri atas lima indikator: Menarik diri, Memaksa, Mendamaikan, Kompromi, dan Konfrontasi.
2.      Yang dimaksud ibu bekerja dalam penelitian ini adalah ibu siswa kelas VI yang memiliki pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipil dan ibu yang tidak bekerja statusnya sebagai Ibu Rumah Tangga.


Pendekatan STM


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kini semakin berkembang pesat dan menyebabkan perubahan yang terjadi dalam masyarakat semakin dinamis. Untuk itu diperlukan usaha untuk mempersiapkan warga Indonesia yang mampu bersaing bebas dan memiliki ketangguhan berpikir, bersikap, dan bertindak berdasarkan pemahaman tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip sains atau biologi serta penerapannya melalui kurikulum sains.
Salah satu tujuan pembelajaran sains di Sekolah adalah supaya siswa memiliki pengetahuan, keterampilan menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi, dan mengkaji prinsip sains yang sudah dimanfaatkan dalam produk teknologi dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Tercapainya tujuan pendidikan sains membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas baik fisik ataupun mental dapat diperoleh melalui kegiatan di bidang pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia yang berkualitas.
1
 
Pendidikan sains di sekolah selama ini terlalu teoritis dan banyak hafalan bahasa Latin sehingga dianggap sulit. Proses pembelajaran belum memperhatikan hubungan konsep sains dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak mengenali lingkungannya apalagi mengaplikasikannya. Masalah yang muncul dan berkembang di masyarakat menuntut siswa untuk mampu memecahkan masalah tersebut sekaligus dapat merasakan manfaatnya.
Kenyataan di lapangan, siswa yang memiliki kemampuan awal tinggi seharusnya lebih bersemangat, mudah mempelajari dan mengikuti proses pembelajaran yang diberikan, karena ia telah memiliki pengetahuan dasar tentang materi pelajaran yang akan diberikan, akan tetapi guru belum mampu menggali pengetahuan awal siswa tersebut. Sebaliknya siswa yang memiliki pengetahuan awal rendah diduga kurang dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Kenyataan ini menuntut perlunya proses pembelajaran yang dapat menggali dan mengembangkan pengetahuan siswa dan membawanya mencapai prestasi belajar optimal.
Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN)  6 Pinggir merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit bagi siswa terlihat dari perolehan hasil belajar siswa yang selalu kurang memuaskan dilihat dari hasil Ujian Nasional T.P. 2008/2009 rata-rata 5,25 dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang.
Untuk mewujudkan pendidikan sains diperlukan suatu model pembelajaran sains yang berkaitan dengan ilmu dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh sains melalui pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) diduga merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa sekaligus mempersiapkan siswa supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Dalam proses pembelajaran sebaiknya siswa dihadapkan pada masalah yang ada dalam masyarakat, sehingga terasa manfaat bagi kehidupannya.
Topik yang diajarkan menggunakan pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) adalah Perkembang biakkan Tumbuhan. Topik ini sangat berkaitan dengan isu yang berkembang saat ini yaitu menciptakan lingkungan indah, nyaman, dan sehat yang mengikuti Era Globalisasi dan Otonomi Daerah, serta mampu mensejahterakan semua warga negara Indonesia. Pada Otonomi Daerah, di lingkungannya ingin mengembangkan agribisnis dan pariwisata dalam menunjang program Otonomi Daerah perlu dirancang suatu pembelajaran IPA (Biologi) yang tepat, menarik, dan mampu menggali potensi siswa sehingga cocok untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari.
Pengenalan siswa mencari dan menyimpulkan masalah atau isu yang ada di lingkungan, diikuti oleh pemecahan masalah yang telah dimunculkan pada awal pertemuan serta diakhiri dengan pemantapan pemahaman konsep oleh guru. Hal ini merupakan salah satu alternatif proses pembelajaran. Konsep sains dan teknologi yang telah dibentuk oleh siswa selama pembelajaran, diperoleh melalui latihan menyelesaikan tugas atau masalah dalam disiplin ilmunya, yang kemudian dapt diterapkan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupannya.
Guru harus mampu melibatkan siswa ke dalam kegiatan belajar secara optimal, misalnya siswa diberi latihan untuk mencari isu sains dan teknologi yang ada di sekelilingnya (di masyarakat). Permasalahan tersebut dibawa ke dalam kelas untuk didiskusikan, kemudian dicari bersama-sama pemecahannya. Kegiatan tersebut akan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa dan tidak akan terlupakan. Siswa akan lebih kreatif dan akan banyak bertanya pada guru sebagai nara sumber, mencari buku-buku sumber, dan aktif melakukan pengamatan. Siswa diharapkan menikmati kegiatan sains dengan bimbingan dan tuntunan guru sains yang berfungsi sebagai fasilitator.
Berdasarkan pengamatan penulis pada tanggal 09 Februari 2009 di kelas IX3 SMPN 6 Pinggir, siswa belum dapat memanfaatkan lingkungan sebagai sumber ilmu sebagai pengetahuan awal mereka sehingga siswa belum dapat mengkaitkan pembelajaran sains dengan lingkungan yang ada di sekitar mereka.
Peneliti mencoba mengadakan penelitian yang bersifat kolaborasi yang tidak terlepas dari prinsip sains di atas. Hal ini sejalan dengan proses pendidikan umumnya serta proses pembelajaran khususnya, pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, bukanlah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan yang sebanyak-banyaknya tetapi harus menghasilkan lulusan yang memiliki serangkaian keterampilan atau kemampuan serta sikap dan nilai penting yang berguna untuk melanjutkan pendidikan serta untuk hidup dan bekerja di masyarakat.




B. Identifikasi Masalah
Memperhatikan uraian latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan masalah-masalah yang timbul, antara lain :
  1. Guru belum memperhatikan kemampuan awal yang dimilki siswa
  2. Minimnya peralatan laboratorium untuk kegiatan praktikum
  3. Penggunaan media pembelajaran belum optimal
  4. Pembelajaran masih berpusat kepada guru
  5. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran masih bersifat tradisional
  6. Hasil belajar IPA siswa masih belum optimal

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, banyak pertanyaan yang dapat diajukan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa. Mengingat berbagai keterbatasan peneliti baik dari segi kemampuan akademik, biaya, tenaga maupun waktu, maka tidak mungkin semua variabel yang berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa tersebut diteliti. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti akan membatasi permasalahan pada penggunaan pendekatan pembelajaran untuk mata pelajaran IPA, yaitu membandingkan hasil belajar siswa dengan pengetahuan awal tinggi dengan penggunaan pendekatan STM dengan hasil belajar siswa menggunakan pendekatan non STM. Dan hasil belajar siswa dengan pengetahuan awal rendah dengan penggunaan pendakatan STM dan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan non STM.
D. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
  1. Apakah terdapat pengaruh pendekatan Sains Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA?
  2. Apakah terdapat pengaruh pengetahuan awal tinggi yang diajar dengan Sain Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA?
  3. Apakah terdapat pengaruh pengetahuan awal rendah yang diajar dengan Sain Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA?
  4. Apakah terdapat interaksi antara pendekatan sains teknologi masyarakat dan pengetahuan awal dengan hasil belajar IPA?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan:
  1. Pengaruh pendekatan Sains Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA
  2. Pengaruh pengetahuan awal tinggi yang diajar dengan Sain Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA
  3. Pengaruh pengetahuan awal rendah yang diajar dengan Sain Teknologi Masyarakat terhadap hasil belajar IPA
  4. Interaksi antara pendekatan sains teknologi masyarakat dan pengetahuan awal dengan hasil belajar IPA.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memperbaiki proses pembelajaran perkembangbiakkan tumbuhan di SMP sebagai upaya meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Secara rinci manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitan ini adalah :
1.      Toeritik
a.       Sebagai bahan masukkan yang baik dalam pengembangan konsep atau koreksi terhadap kurikulum yang akan datang ditingkat SMP
b.      Sebagai bahan informasi awal bagi penelitian selanjutnya dibidang yang sama.
2.      Praktik
a.       Sebagai contoh konkrit bagi guru biologi tingkat SMP tentang pendekatan Sains Teknologi Masyarakat sebagai pendekatan alternatif untuk meningkatkan penguasaan konsep dan sikap kepedulian siswa pada konsep perkembangbiakkan tumbuhan.
b.      Sebagai masukkan atau umpan balik bagi guru yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merancang pembelajaran pada materi-materi lainnya.
c.       Sebagai pengalaman bagi peneliti dan peneliti lain yang dapt digunakan sebagai langkah awal dalam penelitian dan pembanding untuk kegiatan yang lebih lanjut.